Acara Masak di Netflix Bikin Penonton Penasaran dengan Budaya dan Liburan

Read Time:4 Minute, 30 Second

Netflix mengungkapkan bahwa acara kuliner mereka punya pengaruh besar bagi penonton. Tayangan ini tidak hanya mengenalkan menu-menu baru, tapi juga memicu penonton untuk mendalami budaya lain hingga menentukan tempat liburan impian.

Menurut Malobika Banerji, Senior Director of Content Netflix Asia Tenggara, program kuliner berhasil memadukan hiburan, kedekatan emosional, dan pengenalan budaya dengan sangat apik. Itulah alasan mengapa genre ini selalu sukses memikat hati banyak penonton.

“Kisah yang bagus itu pasti bikin penasaran, dan sekarang penonton lagi suka banget sama tayangan yang bisa memanjakan semua indra mereka. Makanya, banyak yang makin kepo sama cerita di balik pembuatan sebuah makanan,” kata Malobika Banerji dalam rilis persnya, Kamis.

Menurutnya, di situlah letak kehebatan cerita kuliner. Sebab, setiap makanan pasti punya cerita tersendiri tentang tradisi, kehidupan masyarakat, dan keseruan di balik dapur.

Konten kuliner saat ini tidak lagi sekadar memicu hasrat penonton untuk mencicipi hidangan di layar. Melalui berbagai format seperti drama, dokumenter, hingga ajang kompetisi—misalnya Culinary Class Wars, Street Food Asia, serta serial lokal teranyar Luka Makan Cinta—makanan kini memiliki peran yang jauh lebih krusial daripada sekadar aspek estetika visual.

Sajian kuliner telah bertransformasi menjadi medium narasi yang merepresentasikan identitas budaya, memperkuat penokohan, sekaligus membangun ikatan emosional dengan audiens. Narasi berbasis makanan ini kerap kali menjadi jembatan bagi penonton untuk mengeksplorasi lebih jauh mengenai tradisi, kebudayaan, dan pola hidup suatu bangsa.

Fenomena ini terlihat jelas pada kesuksesan kompetisi Culinary Class Wars yang dinilai mampu menggairahkan kembali ekosistem kuliner di Korea pada setiap musim penayangannya. Dampak positifnya meliputi lonjakan angka reservasi restoran serta popularitas baru bagi para juru masak yang terlibat.

Data dari Catchtable, sebuah platform reservasi restoran terkemuka di Korea, menunjukkan bahwa restoran milik para juru masak yang berpartisipasi mengalami lonjakan pemesanan rata-rata sebesar 148 persen selama penayangan musim pertama.

Momentum pertumbuhan ini terus menunjukkan tren positif pada musim berikutnya. Rata-rata reservasi dan daftar tunggu (waiting list) per restoran peserta tercatat melonjak hingga sekitar 303 persen dalam kurun waktu lima minggu pasca-tayang perdana Musim 2, jika dibandingkan dengan periode lima minggu sebelumnya.

Di sisi prestasi tayangan, Culinary Class Wars Musim 1 berhasil mengukir sejarah sebagai serial tanpa naskah (unscripted) asal Korea pertama yang memimpin daftar Global Top 10 Netflix Non-English selama tiga pekan berturut-turut. Acara kompetisi memasak ini juga mendapat respons yang sangat positif di pasar domestik Indonesia, di mana serial tersebut sukses menempati peringkat pertama di Netflix dan mampu bertahan di jajaran Top 10 selama delapan minggu berturut-turut.

Berbekal kekayaan cita rasa tradisional, heterogenitas budaya kuliner, serta pesatnya perkembangan gastronomi modern, Indonesia sejatinya memiliki seluruh elemen krusial untuk menyajikan narasi kuliner yang memikat penonton global.

Potensi ini sempat terekam dalam serial dokumenter Netflix Street Food: Asia rilisan 2019. Program tersebut menyoroti khazanah kuliner kaki lima di kawasan Asia sekaligus mempromosikan berbagai destinasi kuliner lokal ke panggung internasional.

Melalui episode khusus Yogyakarta, serial dokumenter tersebut mengeksplorasi ragam hidangan ikonis beserta figur-figur penting di balik kuliner legendaris tanah air, seperti Lupis Mbah Satinem, Gudeg Mbah Lindu, serta industri rumahan Mie Lethek Cap Garuda.

Kehadiran tayangan tersebut berhasil menstimulasi rasa ingin tahu audiens untuk mengalami secara langsung atmosfer, kebudayaan, serta khazanah kuliner yang tersaji di layar kaca. Eksistensi episode ini turut berkontribusi dalam meningkatkan eksposur media dan minat wisatawan terhadap kuliner tradisional Indonesia, sekaligus mengukuhkan posisi Yogyakarta sebagai destinasi wisata kuliner unggulan.

Tren narasi berbasis kuliner ini pun kian marak diadopsi dalam berbagai produksi fiksi lokal. Salah satu proyek terbaru adalah serial Luka, Makan, Cinta (2026), yang mengombinasikan tema pencarian jati diri, jalinan romansa, serta dinamika industri kuliner tanah air dengan mengambil latar utama di Bali.

Melalui representasi hidangan seperti lontong balap, lobster sambal matah, hingga pisang ijo yang dikonsep dalam format fine dining artistik, serial Luka, Makan, Cinta berhasil memperkenalkan kekayaan gastronomi Indonesia kepada audiens global. Di samping itu, serial ini juga merekam realitas di balik dapur profesional, mulai dari tingginya tekanan kerja hingga standarisasi disiplin yang dibutuhkan untuk berkompetisi di industri tersebut.

Secara prestasi, Luka, Makan, Cinta sukses mengamankan posisi dalam daftar Global Top 10 Netflix untuk kategori serial Non-English dengan mengantongi sekitar 2,4 juta penayangan, serta menembus peringkat Top 10 di 30 negara. Di pasar domestik, serial ini mampu mempertahankan posisinya di jajaran Top 10 Netflix Indonesia selama lima pekan berturut-turut.

Fenomena ini memperkuat rekam jejak sinema kuliner sebelumnya seperti Aruna & Lidahnya serta Rahasia Rasa yang turut tersedia di platform tersebut, di mana makanan diposisikan sebagai instrumen untuk membedah narasi identitas, budaya, dan dinamika hubungan antarmanusia.

Menanggapi tren ini, pemenang MasterChef Indonesia Season 8 sekaligus pelaku usaha kuliner dan kreator konten, Chef Jesselyn Lauwreen, menyatakan bahwa tayangan kuliner saat ini telah bertransformasi menjadi konten yang lebih personal dan emosional. Ia menambahkan bahwa konten-konten tersebut secara tidak langsung merevolusi cara masyarakat mengapresiasi dunia kuliner. Kini, audiens dapat mengenal serta membangun keterikatan dengan suatu konsep masakan, restoran, maupun figur juru masak sebelum melakukan kunjungan fisik, yang pada gilirannya menstimulasi minat generasi muda untuk mendalami sektor kuliner.

“Cerita, passion, dan perjuangan di balik layarlah yang bikin penonton merasa lebih dekat dengan makanan dan sosok chef-nya. Lewat tayangan ini, kita diajak buat lebih menghargai proses panjang di balik setiap piring yang disajikan. Mulai dari gila-gilaannya tekanan di dapur, solidnya kerja sama tim, usaha mati-matian menjaga rasa agar tetap konsisten, sampai kerja keras yang selama ini nggak pernah kelihatan sama pelanggan,” kata Chef Jesselyn, yang juga hobi nonton acara di Netflix seperti Culinary Class Wars dan Street Food Asia.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Brasil Siap Kuasai Piala Dunia 2026 dengan Skuad Bertabur Bintang
Next post Kuliner Nusantara Unjuk Gigi di Hotel Bintang Lima Beijing!