Kuliner Nusantara Unjuk Gigi di Hotel Bintang Lima Beijing!

Read Time:3 Minute, 45 Second

Berbagai makanan khas dari bermacam daerah di Indonesia sukses jadi menu spesial di Hotel Grand Hyatt Beijing. Hidangan-hidangan ini disajikan selama festival kuliner Indonesia bertajuk “Kepulauan Cita Rasa” yang digelar dari tanggal 3 sampai 28 Juni 2026.

“Menu-menu seperti bakpao, cakwe, dan capcay itu sebenarnya cerminan sejarah panjang interaksi antara Indonesia dan China. Ini jadi bukti nyata adanya pertukaran budaya antarmasyarakat jauh sebelum hubungan diplomatik modern dimulai. Makanya, saya mengajak semua yang hadir di sini untuk menikmati kayanya rasa kuliner Indonesia, sekaligus memahami cerita seru di balik setiap makanannya,” ujar Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, di Hotel Grand Hyatt Beijing, Rabu (3/6).

Acara pembukaan ini dihadiri oleh sekitar 50 orang tamu undangan, mulai dari istri Dubes RI Wiwik Oratmangun, para diplomat negara sahabat, warga Indonesia yang tinggal di Beijing, sampai masyarakat lokal. Suasana makin meriah berkat penampilan musik tradisional perpaduan Indonesia dan China yang dibawakan apik oleh Risnandar, seorang dosen dari Central Conservatory of Music Beijing.

“Sektor perdagangan berfungsi menghubungkan perekonomian kita, dan investasi berperan memperkokoh hubungan industri. Kendati demikian, makanan senantiasa menjadi medium utama yang mempererat hubungan masyarakat kedua negara. Pada dasarnya, kemitraan yang berkelanjutan berakar pada ikatan kuat antarmanusia,” jelas Dubes Djauhari.

Di sisi lain, Luca Puluse, selaku head chef asal Italia di Hotel Grand Hyatt Beijing yang beristrikan warga negara Indonesia, menilai bahwa khazanah kuliner Indonesia menyimpan kekayaan luar biasa yang sejauh ini belum tereksplorasi secara luas oleh masyarakat internasional.

“Sangat disayangkan bahwa mayoritas masyarakat internasional hanya mengidentifikasi Indonesia sebatas Pulau Bali. Berdasarkan pengalaman saya mengunjungi berbagai wilayah di Indonesia, kuliner nusantara memiliki heterogenitas yang luar biasa dari satu pulau ke pulau lainnya, bahkan dalam cakupan geografis pulau yang sama. Oleh karena itu, misi saya adalah memperkenalkan keragaman tersebut,” ungkap Luca.

Dalam perhelatan festival tahun ini, Luca berkolaborasi dengan sejumlah juru masak Indonesia yang didatangkan langsung dari Jakarta. Mereka mempresentasikan lini menu yang sangat variatif, meliputi 12 jenis hidangan pembuka, 2 varian sup, 16 menu hidangan utama, 4 sajian panggang, 12 jenis sambal tradisional, serta aneka ragam kerupuk.

“Kalau tahun lalu kami cuma menyajikan menu-menu klasik yang sudah populer seperti rendang, nasi goreng, dan soto, tahun ini beda banget. Kami sengaja menyajikan pilihan makanan sebanyak mungkin yang mewakili berbagai pulau, mulai dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku, sampai Flores,” tambah Luca.

Makanya, pas acara pembukaan kemarin, para tamu langsung dimanjakan dengan deretan hidangan khas seperti nasi lapola, sop konro, bebek betutu, ayam woku, pepes ikan, hingga pencuci mulut tradisional seperti kolak pisang, cenil, es putar, dan minuman jamu. Soal rasa, Luca menegaskan kalau dia tidak mau berkompromi—semua menu disajikan dengan cita rasa yang benar-benar asli dan autentik.

“Saya minta tim buat masak makanan Indonesia dengan rasa aslinya. Kenapa? Karena misi utama kita di sini adalah ngenalin kuliner nusantara sebanyak mungkin. Apalagi, masyarakat China itu sudah biasa traveling ke luar negeri, jadi mereka pasti tahu dan sangat menghargai rasa makanan yang autentik,” kata Luca.

Sous chef alias wakil kepala koki asal Indonesia, Kiki Aprianto, yang diterbangkan langsung dari Jakarta juga mengamini hal tersebut. Ia menegaskan kalau mereka sama sekali tidak mengubah bumbu dasar masakan agar rasa asli kuliner Indonesia tetap terjaga dengan sempurna.

“Sebenarnya nggak ada resep yang dikurangi sama sekali. Kita tetap pakai standar asli dan nggak mengubah cita rasa lokal Indonesia. Kami cuma menyesuaikan level pedas dan manisnya saja, sesuai dengan request dari pihak penyelenggara,” tambah Kiki.

Nggak cuma makanan berat, acara pembukaan kemarin juga menyuguhkan deretan kopi autentik Indonesia. Mulai dari Papua Wamena, Jambi Kerinci, kopi Luwak, Liberia Jawa, sampai Arabika dari Jawa Barat dan Bali.

Edwin Prajna Adistana, spesialis kopi Indonesia di Beijing, sengaja membawa biji kopi dari bermacam daerah karena pengen pamerin cerita di balik kayanya alam Indonesia lewat secangkir kopi.

“Kopi Indonesia itu ceritanya banyak banget. Biasanya orang China cuma tahu Bali, Bromo, sama Jakarta. Padahal, kopi kita itu tersebar luas mulai dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, Papua, sampai Nusa Tenggara. Lewat kopi-kopi ini, kita bisa cerita kalau setiap daerah punya karakter rasa yang unik dan beda-beda,” kata Edwin.

Menurutnya, keberagaman rasa inilah yang bikin kopi Indonesia punya nilai jual lebih kalau dibandingin sama kopi impor populer lainnya di China, seperti dari Brasil, Etiopia, atau Vietnam.

“Kopi Indonesia emang belum terlalu familier di telinga masyarakat China. Kebanyakan dari mereka cuma tahu kopi luwak yang harganya selangit, padahal kita punya banyak varian kopi lain yang rasanya nggak kalah menarik,” tambahnya.

Nah, buat yang penasaran mau coba, berbagai menu autentik Indonesia ini bisa dinikmati di restoran mulai jam 11.00 sampai 21.00 waktu setempat.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Acara Masak di Netflix Bikin Penonton Penasaran dengan Budaya dan Liburan